Pertemuan Dadakan
Dear Fina dan Wita
Hampir 3 tahun tidak berkabar dan akhirnya kita bertemu.
Waktu memberikan banyak perubahan. Perbincangan kita pun mulai berubah. Aku
benar-benar merindukan kalian. kita tumbuh dan berkembang di lingkungan yang
berbeda.
Pertemuan yang tidak direncanakan sebelumnya membuat kita
bertemu untuk duduk bercerita mengenai aktivitas yang kita jalani saat ini.
Cerita sedih maupun bahagia terucap.
Yang membuat tercengang adalah salah satu dari kita tahun ini
akan melepas masa lajangnya. Di umur yang terbilang muda, berani untuk
mengambil keputusan yang sangat sakral dalam sebuah kehidupan.
Aku turut senang, melihat kebahagiaan kalian. Sukses untuk
kita semua!
Kembali Untuk Pulang
Dear Mbak Ayu
Kau tahu, kau adalah salah satu inspirasiku. Mengenalkan aku
dengan arti sebuah semangat dan senyuman yang tulus. Menerima dengan ikhlas apa
yang sulit untuk diterima dalam
kehidupan ini.
Perkenalan kita mungkin belum terlalu lama, tapi aku merasa
kamu ada di dalam bagian kehidupanku dan membuatku bersyukur telah mengenalmu.
Sedikit melankolis ketika aku melihat pembahasan mengenai “pulang”
di linimasamu. Tujuan kita memang kesana, kembali untuk pulang. Semoga kita mempunyai bekal untuk menuju
kesana.
Tak ada lagi alasan aku mengeluh mengenai kehidupan. Karena
secara gamblang kau mau berbagi cerita
tentang semua kehidupanmu. Hidup ini memang butuh perjuangan. Terima kasih
telah mengajarkan banyak hal.
Tumbuh Bersama
Dear Hanna
Dari kecil kita sudah menjadi sahabat, mungkin karena rumah
kita hanya beda blok saja. Teman segala permainan. Dulu kau sering dititipkan
orangtuamu di rumahku. Membuat intensitas bertemu semakin sering.
Tapi saat ini mungkin kita tak sering bertemu seperti dulu. Kamu masih tetap sama. Pembicaraan
apa saja masih tetap seru didengar. Kamu mengajarkan untuk hidup apa adanya dan
mengajarkan bahwa hidup ini bukan untuk dipusingkan.
Terima kasih atas segala tingkahmu yang selalu mengukir tawa
diraut wajahku.
Kita Selamanya
Dear Mianda
Cinta hanya memunculkan
ketakutan-ketakutan baru dan persahabatan adalah media untuk menjaganya tetap
waras. Bersamamu, aku tidak pernah merasa sendirian. Karena dirimu bagaikan
rumah ternyaman saat jiwa terasa rapuh.
Kita adalah individu yang
berbeda. Tapi kamu selaku sahabat, selalu tahu apa yang kubutuhkan yaitu
mendengarkan. Dikala orang lain terlalu riuh berbicara untuk berkomentar, kamu
tahu aku membutuhkan apa. Aku butuh pundakmu untuk bersandar dan mengeluarkan
luapan air mata yang tersimpan.
Semenjak aku kehilangan
keakuanku, kamu tetap bisa menerimaku. Ketika sekujur tubuh terasa dingin dan
dada ini terasa sesak, kamu dengan sabar menanganiku. Terimakasih telah menjadi
sahabatku sejak pertama kali kita bertemu.
Waktu telah membawa kita
dengan banyak momentum bersama. Senang, sedih, menangis, ataupun tertawa.
Berdinamika dalam organisasi yang sama, satu tim dalam perlombaan, dan masih
banyak lainnya yang tidak dapat disebutkan satu persatu.
Semoga kita dapat mewujudkan
mimpi kita bersama untuk menginjakan kaki di menara Eiffel itu. Aku benci
dengan sebuah gerbang perpisahan. Bagaimanapun nanti kedepannya, aku berharap
kita tetap bisa meluangkan waktu untuk bertemu dan berbagi cerita.