Selasa, 20 Januari 2015

Bonjour Paris!

© Rekha Pratita


Untuk pagi yang selalu tegas
Tak pernah ingkar tanpa alias
Selalu berdiri aksiomatis
Merekah indah tanpa rias

Untuk pagi yang artetis
Tak pernah bising dengan aplaus
Pesan rindu dari Paris
Selalu mempunyai cara untuk berbalas­


Dua bait untuk seorang teman yang beruntung dapat merealisasikan mimpinya untuk menginjakan kaki ke Eropa.

Sabtu, 11 Juni 2011

INDONESIA DALAM SEMANGAT PEREMPUAN





“Barangsiapa tidak berani, dia tidak bakal menang; itulah semboyanku! Maju! Semua harus dimulai dengan berani! Pemberani-pemberani memenangkan tiga perempat dunia,” Kutipan diatas saya ambil dari salah satu buku Pramoedya Ananta Toer yang berjudul “Panggil Aku Kartini Saja”.
 Didalam buku ini sangat terlihat semangat seorang Kartini dalam pengorbanan hak untuk perempuan. Sebagaimana Abdullah bin Abdulkadit berkata, segolongan orang dimasukan ke dalam golongan Anglofil, telah dibuktikan oleh munculnya Kartini kelak sebagai “pendekar bangsa” dan “pendekar kaumnya”.
R.A. Kartini adalah anak dari R.M.A Sosroningrat dan Ngasirah. Ayahnya ialah seorang bupati jepara pada zamannya. Kartini terbentuk oleh pengaruh yang diakibatkan pada masa gelap, yakni paham golongan liberal Belanda di Hindia Belanda sampai dizaman NICA, perubahan wajah Indonesia dewasa ini diperoleh karena perjuangan ketiga raksasa liberal tersebut: Multatuli dilapangan sastra, Hoevell dilapangan politik, serta Roorda van Eisinga dilapangan jurnalistik. Dalam hubungan dengan hidup kartini, masa gelap ini sangat penting untuk mendapat penyorotan yang sewajarnya.
Kartini mempunyai dasar-dasar yang kuat , mengingat perkembangan jiwa yang penuh konflik dalam pertumbuhan kartini di kemudian hari. Dari konflik-konflik ini beliau mendapatkan pemikiran yang kritis. Salah satunya beliau pernah mengalami diskriminasi pada masa duduk di bangku sekolah. Di sekolah inilah Kartini mendapatkan bahan bekal perjuangannya pertama kali. Kartini meneruskan garis kemajuan leluhurnya, terkecuali satu hal yang tidak diteruskannya, yaitu satu ciri fisik pada bangsawan Jawa: bentuk hidungnya dan kulitnya.
Itu hanya segelintir kecil konflik yang dialami Kartini. Ada lagi ketika ayahnya, Bupati Ario Sosroningrat  mengira pendidikan Barat secumil itu sudah layak diberikan pada seorang perempuan. Tapi Kartini ingin lebih jauh dari hanya sekolah rendah. Beliau mendesak dan menuntut, dan juga beliau memberontak dan memprotes. Tapi sikap ayahnya tidak terbantahkan lagi. Dan demikian, cinta kasih Kartini ini tidak mampu mengalahkan pandangan ayahnya terhadap adat-istiadat negeri tentang wanita.
Sejarah Kartini mulai jelas pada babak beliau masuk pingitan ini, karena sejak waktu itu beliau tidak membiarkan berlalu segala yang terjadi disekelilingnya. Didalam “penjara” ini beliau mengalami pendalaman, dan seakan-akan hidupnya yang masih muda itu dipaksa untuk memahami persoalan-persoalan yang sebenarnya bukan atau belum layak menjadi garapannya.
Kartini terlalu sering mengemukakan kesusilaan dan peradaban, ini tidak lain daripada suatu keharusan karena kurang atau tiadanya kesusilaan dan peradaban pada kaum feodal. Yang ada pada mereka lebih banyak adalah ketidaktahuan, kebiadaban, dan ketiadaan kesusilaan, daya pembeda antara yang baik dan yang buruk. Tak bosan-bosannya beliau menyerukan pendidikan, pertama-tama kepada kaum bangsawan, bukan karena hak ilahiah kaum bangsawan itu, tetapi justru merekalah yang paling mula harus diterbitkan dengan dasar-dasar moral yang sama sekali baru, dan dalam tata hidup yang masih dianut masyarakat mengalirkan kemajuan itu ke lapisan-lapisan yang lebih bawah. Tetapi kaum feodal yang mendapatkan madu kehidupan tidak semudah itu mau dengan senang hati dan rela hati mengubah keenakan-keenakannya yang dinikmati turun-temurun. Mereka menentang setiap kemajuan. Dan bila kemajuan itu menyenangkan, maka kesenangan itu haruslah untuk dirinya sendiri semata!
Kartini sering kali mengungkapkan apa yang dirasanya melalui surat. Apabila dihubungkan dengan surat-suratnya itu,  satu pada yang lain akan ditemukan jawaban yang demikian: dari kebencian, kejijikan yang mendalam terhadap sesuatu. Dan sesuatu ini ialah yang dinamai egoisme atau rangsang hidup yang berlebih-lebihan buat diri sendiri. Beliau tidak pernah menerangkan nama seseorang, tetapi egoisme sebagai pernyataan rangsang itu yang dibenci dan dijijiki serta dilawannya, dan beliau tidak peduli siapa yang mewujudkan egoisme ini menjadi perbuatan. Kartini tidak peduli, sekalipun si siapa itu dirinya sendiri! Dan dari surat-suratnya yang banyak itu nampaklah pelaksana-pelaksana egoism yang dikenalnya itu, baik secara terang-terangan maupun dengan bahasa bermakna ganda: Feodalisme, penjajahan, ketidakmajuan. Egoisme ini mewujudkan diri atau diwujudkan dalam bentuk keserakahan, dan keserakahan pada gilirannya memanggil kelaziman, ketidakadilan, kepalsuan. Beliau sendiri banyak menderitakan perbuatan-perbuatan egois itu dengan tubuh dan jiwanya. Beliau merasakan penderitaan itu.
Situasi hidup menyebabkan Beliau tak banyak mempunyai sasaran observasi atau pengamatan. Tetapi ternyata Kartini punya inteligensi yang tajam, sehingga dalam memandang dan memahami sesuatu ia mempergunakan system tertentu yaitu mempergunakan contoh-contoh sekelilingnya yang dekat dan kecil, mendapatkan asasnya, dan mengenakannya pada yang selebihnya. Segala apa yang tertangkap oleh pancaindera atau mata batinnya, betatapun kecil dan sedikitinya, takkan dilepaskannya. Digenggamnya terus, diamatinya, dikoreknya untuk mendapatkan asasnya, melewati permukaan, meresapi isi, dan bila asa itu telah ditemukannya, itu berati ditemukan bangun yang lain dari kehidupan.
 Beliau percaya, bahwa kelak satu ciri bangsawan yang ditinggalkannya ini tidak lain daripada satu ciri adanya perubahan dalam konstelasi kejiwaannya, suatu penyimpangan dari leluhurnya: pandangan dunianya telah lebih kaya dengan satu unsur- unsur demokrasi.(*)